Daniel Sedik, pemuda Papua yang menempuh pendidikan Sains dan Teknologi di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta (dok)
KBRN, Keberadaan digital menjadi semakin penting di seluruh aspek kehidupan, mulai dari ekonomi, kesehatan, dan pendidikan. Meskipun banyak yang berlomba-lomba untuk beradaptasi dengan transformasi digital nasional, namun masih ada kesenjangan nyata antara pusat dan daerah, terutama di wilayah Indonesia timur. Menurut Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo, 2023), wilayah seperti Papua masih menghadapi hambatan dalam hal infrastruktur digital, akses internet, dan literasi teknologi masyarakat. Selain itu infrastruktur digital menjadi isu yang penting untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat yang semakin bergantung pada teknologi digital (Supa, 2023).
Papua sebagai bagian dari kategori 3T (tertinggal, terdepan, terluar), menjadi kawasan yang sangat membutuhkan pendekatan berbasis lokal dalam pembangunan digitalnya. Namun dibalik tantangan itu, lahir semangat anak muda Papua yang membawa harapan. Salah satunya adalah Daniel Sedik, pemuda Papua yang menempuh pendidikan Sains dan Teknologi di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta yang berhasil membawa mimpinya pulang ke tanah kelahiran papua. Di Yogyakarta, ia aktif mengikuti berbagai komunitas teknologi dan kewirausahaan, termasuk pelatihan digital, pengembangan perangkat lunak, hingga diskusi-diskusi lintas bidang yang membuka pandangannya tentang bagaimana teknologi bisa diadaptasi sesuai kebutuhan lokal. Berawal dari pengalamannya selama studi di sekolah dan bergabung dalam beberapa aktivitas diantaranya Kelompok Studi Linux (KSL), Developer Student Clubs (DSC) dan masih banyak lainnya.
Sejak inilah Daniel mulai berani bermimpi untuk menjadi sesorang yang ahli dalam bidang tekonologi dan mempertahankan mimpi itu untuk membawanya pulang kelak kembali ke Papua. Pria kelahiran Sorong itu berhasil membawa mimpinya dengan bekal ilmu dan pengalaman yang ia peroleh, dengan satu tekad untuk menghadirkan solusi teknologi yang
kontekstual dan relevan bagi masyarakat lokal melalui pendirian PT Kasuari Solusi Teknologi. Daniel Sedik lahir pada 4 April 1998, ia tumbuh dengan kesadaran akan ketimpangan akses teknologi di daerah asalnya. Ketertarikannya pada dunia membawanya merantau ke Yogyakarta untuk menempuh pendidikan di bidang teknologi informasi. Di kota pelajar itu, Daniel tak hanya belajar soal sistem dan perangkat lunak, tapi juga menyerap semangat inovasi yang berkembanga dalam ekosistem starup dan komunitas digital. Namun, ditengah kemajuan yang ia saksiskan ia juga menyadari betapa pentingnya membawa pengetahuan tersebut kembali ke papua, sebagai bentuk pengabdian dan sebagai strategi transformasi berbasis lokal.
Semangat inilah yang menjadi fondasi pendirian PT Kasuari Solusi Teknologi, perusahaan rintisan yang ia bangun pada tahun 2020 dan masih beroperasi hingga sekarang sebagai wadah bagi solusi digital yang lahir dari, oleh, dan untuk msyarakat Papua. Meski menempuh pendidikan tinggi di kota besar, Daniel tak pernah melupakan identitas dan akar budayanya sebagai anak papua, ia menyadari bahwa transformasi digital yang sesungguhnya tidak hanya berbicara tentangg kecanggihan teknologi, tetapi juga keberpihakan terhadap keadilan sosial, akses yang merata, dan pengembangan kapasitas masyarakat di daerah yang selama ini dipinggirkan. Berbagai pengalaman itulah ia memulai memetakan potensi teknologi sebagai jembatan untuk menjawab berbagai permasalahan sosial di Papua mulai dari keterbatasan pelayanan publik, minimnya data digital daerah, hingga pentingnya literasi digital di kalangan pemuda. Keputusannya untuk, kembali ke Papua dan membangun PT Kasuari Solusi Teknoogi bukanlah langkah yang mudah. Ia harus meninggalkan kenyamanan ekosistem digital kota besar dan menghadapi realitas di lapangan yang penuh tantangan dengan koneksi internet yang tidak stabil, sumber daya manusia yang belum siap, hingga sistem birokrasi yang sering kali lambat beradaptasi dengan inovasi.
Tantangan ini semakin memperkuat komitmen untuk menghadirkan solusi teknologi yang sesuai konteks sosial dan budaya Papua. Melalui pendekatan yang partisipatif dan
mengedepankan nilai-nilai lokal, ia percaya bahwa transformasi digital Papua hanya akan berhasil jika dijalankan oleh mereka yang benar-benar memhamai Papua dari dalam. Daniel tidak hanya membangun sebuah perusahaan, tetapi juga sebuah gerakan-gerakan anak muda Papua untuk mandiri secara digital. Tak hanya fokus pada pengembangan sistem teknologi umum, Daniel juga memperluas kontribusinya di bidang ekonomi digital dan pariwisata lokal. Ia kini menjabat sebagai CEO dari Platform Pacific Bliss, sebuah platform marketplace wisata yang dibangun pada tahun 2023 untuk mempromosikan destinasi-destinasi tersembunyi dan budaya Papua kepada wisatawan nasional dan Internasional.
Melalui Pacific Bliss, Daniel tidak hanya menfasilitasi layanan digital seperti pemesanan tur dan akomodasi, penginapan, tetapi juga memberdayakan pelaku UMKM lokal melalui produk yang ditawarkan, pemandu wisata dan komunitas adat agar dapat terlibat aktif dalam ekosistem pariwisata digital. Platform ini tidak hanya menghubungkan wisatawan dengan destinasi dan penyedia jasa lokal, tetapi juga membantu memperkenalkan potensi kearifan lokal Papua kepada publik luas melalui pendekatan berbasis teknologi. Inovasi ini menjadi penting karena sektor pariwisata Papua selama ini sering terpinggirkan dari arus digitalisasi nasional. Kehadiran Pacific Bliss menjembatani kesenjangan itu, dengan mengedepankan inklusivitas digital, pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal, dan pelestarian nilai-nilai budaya. Bagi Daniel, teknologi bukan hanya tentang efisiensi, tetapi tentang menghadirkan akses dan peluang yang setara bagi semua orang terutama bagi mereka yang selama ini berada di pinggiran.
Sebagai sebuah platform digital yang dibangun oleh anak muda papua untuk melayani kebutuhan lokal, Pacific Bliss hadir dengan berbagai keunggulan yang membedakannya dari marketplace wisata pada umumnya. Platform ini tidak hanya menyediakan layanan pemesanan trip wisata, penginapan, dan event, tetapi juga membuka ruang bagi pelaku UMKM lokal untuk menjangkau pasar digital. Lebih dari itu pendektaan kontekstual yang berbasis budaya dan
kebutuhan masyarakat Papua menjadi kekuatan utama platform ini, sekaligus menjadi wujud konkret dari inovasi yang lahir dari pinggiran, bukan dari pusat. Di balik semua itu, kepemimpinan Daniel Sedik yang aktif dalam jejaring kolaborasi lintas sektor turut memperkuat posisi Pacif Bliss sebagai platform digital yang berakar dan berdaya saing. Namun demikian, tantangan yang dihadapi Pacific Bliss juga tidak kecil. Keterbatasan infrastruktur jaringan di berbagai wilayah Papua membuat akses terhadap platform ini belum bisa dirasakan secara merata, terutama oleh komunitas yang berada di daerah-daerah pedalaman.
Selain itu, rendahnya literasi digital pada sebagian pelaku wisata dan UMKM lokal juga menjadi kendala tersendiri dalam proses adopsi teknologi secara optimal. Selain itu, rendahnya literasi digital pada sebagian pelaku wisata dan UMKM lokal juga menjadi kendala tersendiri dalam proses adopsi teknologi secara optimal. Meski demikian, keberadaan platform ini tetap menjadi pijakan penting dalam membangun keadilan digital dan ekonomi inklusif di Papua, serta menjadi inspirasi bagi inisiatif serupa di daerah lainnya. Selain menjalankan perannya sebagai pemimpin di bidang teknologi, Daniel juga aktif terlibat dalam berbagai seminar, diskusi publik, dan forum starup yang membahas isu-isu transformasi digital, pemberdayaan teknologi di daerah, serta pengembangan ekosistem inovasi lokal. Dalam berbagai kesempatan keterlibatan kolaborasinya dengan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, kementerian terkait, hingga mistra swasta dan komunitas starup nasional, Daniel menekankan pentingnya membangun teknologi yang berbasis kebutuhan nyata masyarakat serta memperkuat kapasitas anak muda lokal sebagai pelaku utama perubahan.
Melalui peran-peran ini, ia tidak hanya membangun jaringan profesional, tetapi juga memperkuat posisi Papua dalam percakapan strategis mengenai masa depan digital Indonesia. Kisah Daniel Sedik dan platform Pacific Bliss menjadi bukti nyata bahwa transformasi digital di Indonesia tidak hanya bisa digerakkan dari pusat, tetapi juga dari daerah yang selama ini
terpinggirkan dalam peta inovasi nasional. Dengan membangun platform teknologi yang berakar pada kebutuhan dan potensi lokal Papua, Daniel telah menunjukkan bagaimana teknologi dapat menjadi alat pemberdayaan, pelestarian budaya, dan pemerataan ekonomi. Meski tantangan infrastruktur, literasi digital, dan dukungan kebijakan masih membayangi, semangat dan komitmen seperti yang ditunjukkan oleh Daniel dan timnya menjadi pondasi penting bagi masa depan ekosistem digital yang lebih adil, inklusif, dan perkembangan teknologi yang berkelanjutan di Papua.
( Deolinda da Silva Pinto)
Sumber Berita:
https://rri.co.id/jambi/wawancara/1622287/kisah-daniel-sedik-bangun-papua-lewat-teknologi
